17th September 2011

Post with 6 notes

PENERAPAN ARSITEKTUR NEO-KLASIK YUNANI PADA FASADE BANGUNAN MUSEUM NASIONAL JALAN MERDEKA BARAT NO.12 - JAKARTA

ABSTRAKSI

Perkembangan Arsitektur di Eropa dan Dunia Internasional dari akhir Abad ke-18 (Neo-Klasik dan Ekletik) dan selama Abad ke-19 (Modernisme) merupakan suatu pergerakan yang signifikan dalam bidang arsitektur barat. Mulai dari kejenuhan akan gaya-gaya klasik, pada masa-masa sebelumnya arsitektur dianggap hanya suatu bentuk dari seni dan perasaan. Namun pada masa itulah terjadi suatu revolusi yang dikenal dengan revolusi industri yang terjadi di Inggris yang memulai dunia dengan era baru yaitu era pabrikasi. Perkembangan politik di Eropa berdasarkan Konvensi Wina (1815) membentuk banyak negara kerajaan baru di sana.

Para arsitek memberi peluang untuk membangun: Istana, Gereja, Perlemen, Museum, Universitas, Perpustakaan, Gedung Konser, Gedung opera, “green House”, yang kebanyakan diciptakan oleh para arsitek yang cenderung menerapkan gaya Klasikisme mesikipun secara konstruksi menerapkan bahan bangunan hasil industri. Arsitektur eropa pada abad itu bersifat Ekletik dengan banyak bangunan elitnya yang terjebak dalam gaya dari masa lalu atau disebut Neo-Klasikisme.

Arsitektur pada era Neo-Klasik tersebar di berbagai benua dengan ciri khas dari masing masing negara induk (bangsa Eropa yang sedang berdaulat). Di Indonesia, arsitektur gaya ini dibawa oleh pemerintah Hindia-Belanda yang ketika itu berkuasa. Bangsa Belanda pun merasa berkepentingan untuk membuat bangunan-bangunan sebagai fasilitas penunjang kegiatan mereka selama di Indonesia. Jadi arsitektur klasik maupun neo-klasik yang diterapkan pada bangunan tersebut adalah masih mengikuti gaya arsitektur atau langgam yang sedang berlaku di Negara asal mereka. Gaya arsitektur ini biasanya banyak diterapkan pada bangunan yang bersifat pemerintahan hal ini dikarenakan pada masa mereka mulai menguasai dan memonopoli perdagangan di Indonesia tentu mereka juga ingin memiliki kekuasaan atas kewilayahan Indonesia untuk itu mereka merasa perlu untuk membuat suatu pemerintahan sebagai landasan yang kuat untuk menguasai suatu wilayah. Namun seiring dengan proses adaptasi dari interaksi dengan masyarakat pribumi, maka makin beragam bangunan yang dibuat dengan fungsi yang berbeda-beda pula. Ciri-ciri gaya arsitektur klasik yang dominan di indonesia biasanya bergaya Yunani hingga Romawi dengan ciri-ciri antara lain bagian depan bangunan memiliki pilar-pilar silindris yang berukuran cukup besar, secara umum memiliki atap tidak terlalu curam , jendela berukuran besar, memiliki tympanum pada bagian Entablature, biasanya bangunan berwarna putih untuk memberi kesan megah pada bangunan, walaupun selama pendudukan Belanda juga berkembang gaya arsitektur klasik lainnya seperti kristen awal, byzantium, art nouveau, renaissance dan sebagainya.

Dalam kasus ini penulis akan lebih khusus membahas tentang fasade gedung Museum Nasional - Jakarta (1778) yang sangat dominan dipengaruhi gaya arsitektur Neo-Klasik Eropa

Tagged: Penulisan Ilmiahteknik arsitekturuniversitas gunadarmamuseum nasionalfaisalfaisal fahnoorneo klasikfasadepenerapan arsitekturx. furuhitoyunaniBataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen